Endang terus-menerus dan melatih kemampuan diri menuju

Endang
Sumarti

IKIP
Budi Utomo Malang

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

e-mail:
[email protected]

 

 

Abstrak: Pendidikan
karakter merupakan bentuk
kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik
diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah
untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih
kemampuan diri menuju hidup yang lebih baik. Pendidikan
karakter dibutuhkan anak autis sebagai bekal dalam hidupnya sehingga siap
menghadapi segala tantangan di dunia yang penuh persaingan dengan penuh percaya
diri. Salah satu cara penanaman nilai pendidikan karakter anak autis dilakukan
melalui dongeng. Dongeng merupakan media efektif untuk menanamkan nilai
pendidikan karakter kepada anak autis.

 

Kata Kunci: pendidikan karakter, anak autis, dongeng

 

A. Pendahuluan

Pendidikan
karakter merupakan bentuk
kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik
diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Pendidikan karakter, pendidikan
budi pekerti dapat dikatakan sebagai proses untuk penyempurnaan diri manusia,
merupakan usaha manusia untuk menjadikan dirinya sebagai manusia yang berakhlak
mulia, manusia yang berkeutamaan (Koesoema, 2007). Pendidikan karakter pada
prinsipnya adalah upaya untuk menumbuhkan kepekaan dan tanggung jawab sosial,
membangun kecerdasan emosional dan mewujudkan siswa yang memiliki etika tinggi
(Barnawi, 2012). Amanat Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 tentang
Sistem Pendidikan Nasional secara tegas menyatakan bahwa pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, danmenjadi warga negara yangdemokratis serta bertanggungjawab.

Pendidikan karakter sebagai sebuah usaha untuk mendidik
anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekkannya
dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang
positif kepada lingkungannya (Kesuma, 2011). Pendidikan karakter tidak hanya
untuk anak normal saja. Anak berkebutuhan khususpun perlu pendidikan karakter. Salah
satu anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan pendidikan karakter adalah anak
autis. Pendidikan karakter dibutuhkan anak autis sebagai bekal dalam hidupnya
sehingga siap menghadapi segala tantangan di dunia yang penuh persaingan dengan
penuh percaya diri.

Autis merupakan suatu gangguan yang kompleks dimana anak
tersebut umumnya mengalami tiga bidang kesulitan yaitu komunikasi, imajinasi,
dan sosialisasi (Baihaqi, 2006). Ditinjau dari segi perilaku, anak autis
cenderung melukai dirinya sendiri, tidak percaya diri, bersikap agresif,
menanggapi secara kurang atau berlebihan terhadap suatu stimuli eksternal, dan
menggerak-gerakkan anggota tubuhnya secara tidak wajar (Maulana, 2007). Anak
autis memiliki sejumlah gangguan kualitatif dalam berkomunikasi salah satunya
adalah kemampuan untuk memulai atau melanjutkan pembicaraan dengan orang lain
meskipun dalam percakapan yang sederhana (Peeters: 2009).

Jumlah anak Indonesia yang menyandang autis terus
bertambah meskipun penyebabnya masih misterius. Sampai saat ini kalangan medis
di Indonesia belum punya standar penanganan baku untuk menangani anak autis.
Meningkatnya jumlah anak autis merupakan persoalan yang menjadi tanggung jawab
bersama, bukan hanya tanggung jawab medis atau psikolog saja. Pendidikan juga memainkan
peran untuk mengarahkan mereka menjadi manusia-manusia yang mandiri dan
bermanfaat sesuai dengan kemampuannya agar tidak menjadi beban bagi lingkungan
di sekelilingnya.

Salah satu cara penanaman pendidikan karakter pada anak autis
bisa dilakukan melalui dongeng. Dongeng merupakan media efektif untuk
menanamkan nilai pendidikan karakter kepada anak termasuk anak autis.  Melalui dongeng guru, orang tua, dan
masyarakat dapat melakukan transformasi nilai melalui perilaku dan karakter
tokoh dalam cerita (Siswanto
dkk, 2017). Misalnya nilai-nilai
kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, 
maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seperti pentingnya makan
sayur dan menggosok gigi. Salah satu keberhasilan suatu dongeng ditentukan oleh
kemampuan pendongeng untuk menyajikannya secara menarik.

Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik
untuk menulis tentang Pendidikan Karakter Anak Autis melalui Dongeng.

 

B.  Pembahasan

1.   Pendidikan
Karakter

Pendidikan karakter merupakan usaha yang dilakukan oleh
para personil sekolah, bahkan dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan
anggota masyarakat untuk membantu anak-anak dan remaja agar memiliki sifat
peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab. Pendidikan karakter adalah sebuah
proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam
kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu
(Majid, 2011). Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan
sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa.
Lickona (1992) menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu
usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami,
memperhatikan dan melakukan nilai-nilai etika. Menurut
Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing),
sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat
dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan,
keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan.

Pendidikan karakter merupakan salah satu usaha untuk
mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan
mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat memberikan
kontribusi yang positif kepada lingkungannya (Kesuma, 2011). Pendidikan
karakter pada prinsipnya adalah upaya untuk menumbuhkan kepekaan dan tanggung
jawab sosial, membangun kecerdasan emosional dan mewujudkan siswa yang memiliki
etika tinggi (Barnawi, 2012). Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang
tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Diantara metode pembelajaran yang
sesuai adalah metode keteladanan, metode pembiasaan, dan metode pujian dan
hukuman.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi
pekerti, pendidikan moral dan pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan
kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, memelihara apa
yang baik, mewujudkan , dan menebar kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari.

 

2.   Pengertian
anak autis

Autis berasal dari
kata auto yang berarti sendiri. Istilah
autisme, diperkenalkan sejak 1943
oleh Kanner untuk menghormati penemunya, autisme disebut juga sindroma Kanner,
yakni sindroma dengan gejala tidak mampu bersosialisasi, kesulitan menggunakan
bahasa, berperilaku berulang-ulang, serta bereaksi tidak biasa terhadap rangsangan
disekitarnya (Handojo, 2004; Yatim, 2003). Dalam Diagnostic and Statistical manual Fourth Edition (DSM IV), autisme ditempatkan di bawah kategori
gangguan perkembangan pervasif antara retardasi mental dan gangguan
perkembangan spesifik. Autisme adalah gangguan perkembangan yang mengganggu perkembangan interaksi sosial,
perilaku, dan bahasa penyandangan. Autisme bukan gangguan mental dan tidak
disebabkan oleh trauma. Autisme merupakan ganguan neurobiologi kompleks.
(Peeters, 2004; Puspita, 2004).

Autisme merupakan
gangguan perkembangan khusunya terjadi pada masa anak-anak yang membuat
seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam
dunianya sendiri. Autisme merupakan salah satu kelompok dari gangguan pada anak
yang ditandai munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif,
komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilaku. Dalam bahasa
Yunani kata autis, “auto” berarti sendiri ditujukan kepada seseorang ketika dia
menunjukkan gejala “hidup dalam dunianya sendiri atau mempunyai dunia sendiri”.
Autis memang merupakan kelainan perilaku yang penderitanya hanya tertarik pada
aktivitas mentalnya sendiri (Prasetyono, 2008; Veskarisyanti, 2008).

  Gejala autisme sudah tampak sebelum anak
mencapai usia tiga tahun. Autis merupakan gangguan perkembangan yang berat pada
anak. Perkembangan mereka menjadi terganggu terutama dalam komunikasi,
interaksi, dan perilaku. Autisme adalah suatu gangguan neurobilogis yang
terjadi pada anak di bawah tiga tahun. Gangguan yang tampak adalah gangguan
dalam bidang perkembangan, perkembangan interaksi dua arah, perkembangan timbal balik, dan
perkembangan perilaku. Gangguan perilaku pada anak autisme bercirikan kurang
dalam bersosialisasi resiprokal, kekacauan dalam berkomunikasi
verbal dan nonverbal, serta perilaku repetitif. (Maulana, 2007).

Anak-anak dengan
gangguan autistik biasanya kurang dapat merasakan kontak sosial. Mereka
cenderung menyendiri dan menghindari kontak dengan orang. Orang dianggap
sebagai objek (benda) bukan sebagai subjek yang dapat berinteraksi dan
berkomunikasi. Autistik merupakan gangguan perkembangan yang mempengaruhi
beberapa aspek bagaimana anak melihat dunia dan bagaimana belajar melalui
pengalamannya. Autis adalah salah satu dari lima tipe gangguan perkembangan
pervasif atau pervasif developmen disorder (PDD), yang ditandai tampilnya
abnormalitas pada domain interaksi sodial dan komunikasi (Yuwono, 2009;
Priyatna, 2010).

Dari berbagai definisi di atas dapat
disimpulkan bahwa autisme adalah sindroma dengan gejala penyimpangan
komunikasi, sosialisasi, dan kognisi, yang dialami seseorang dalam
perkembangannya. Anak autis adalah individu dengan suatu kondisi ketidakmampuan
untuk menampilkan keselarasan antara emosi atau perilaku dalam berkomunikasi
dan berinteraksi dengan lingkungan yang dapat diterima secara umum sesuai
dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.

 

3.   Karakteristik
anak autis

Karakteristik anak autis antara lain tidak peduli dengan lingkungan sosialnya, tidak
bisa bereaksi normal dalam pergaulan sosialnya, perkembangan bicara dan bahasa
tidak normal, dan reaksi atau pengamatan terhadap lingkungan terbatas atau
berulang-ulang. Selain itu anak autis cenderung menghindari kontak mata dengan
orang lain, termasuk dengan sang ibu, senang melihat mainan berputar dan digantung di atas tempat tidur,
terlambat bicara dan bahasanya tidak dimengerti orang lain,  tidak mau bila dipanggil namanya, cenderung
tidak mempunyai rasa empati, dan merasa tidak nyaman bila memakai pakaian
dengan bahan kasar. Anak autis memiliki ciri khusus antara
lain adalah suara yang bergaung, rasa takut untuk disentuh, berjalan di atas
ujung kaki, memutar-mutar tubuh seperti gasing, melompat-lompat, dan meniru
kata-kata. Beberapa anak autistik
tidak mampu berbicara, tidak mampu mengekspresikan diri, baik melalui bahasa
verbal maupun nonverbal, terlihat sangat asyik dengan dirinya sendiri, minatnya
terbatas, dan sama sekali tidak tertarik dengan lingkungannya. Kekebalan tubuh
tidak berkembang sebagaimana seharusnya, berinteraksi jika membutuhkan sesuatu,
berkomunikasi dengan tertawa dan menangis, sangat hiperaktif, tidak mau
digandeng di tempat umum, menolak diarahkan, bahkan  menolak disentuh, dan dipegang (Yatim, 2003;
Puspita, 2004)  .

Menurut Handojo, (2004); Peeters, (2004); Peeters, (2009); Prasetyono (2008) kriteria gangguan autistik
dalam DSM-IV
dipaparkan berikut ini.

A.     
Harus
ada  sedikitnya enam gejala dari (1),
(2), dan  (3)  dengan 
minimal dua dari gejala (1) dan masing-masing satu dari gejala (2) dan
(3).

(1)  
 Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. Mnimal harus ada dua gelaja dari
gejala-gejala  di bawah ini.

a.      
Tak mampu
menjalin interaksi sosial yang cukup memadai: kontak mata sangat kurang, eksprsi muka kurang hidup, gerak-gerik yang kurang tertuju.

b.     
Tak bisa bermain dengan teman
sebaya.

c.      
Tak dapat
merasakan apa yang dirasakan orang lain.

d.     
Kurangnya
hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.

(2)  
 Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti ditujukkan oleh
minimal satu dari gejala-gejala di bawah ini:

a.      
Bicara
terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang (dan tidak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara lain tanpa
bicara).

b.     
Bila bisa
bicara, tidak dipakai untuk berkomunikasi.

c.      
Sering
menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang.

d.     
Cara
bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang bisa meniru.

(3)  
 Suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dari perilaku,
minat, dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala di bawah ini.

a.      
Mempertahankan
satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan.

b.     
Terpaku
pada suatu kegiatan ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya.

c.      
Ada
gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.

d.     
Seringkali sangat terpukau pada
bagian-bagian benda.

B.      
Sebelum
umur tiga tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang:

a.      
Interaksi
sosial.

b.     
Berbicara
dan berbahasa.

c.      
Cara
bermain yang kurang variatif.

C.      
Bukan
disebabkan oleh sindrom Rett atau gangguan disintegratif masa kanak-kanak

Selain itu
karakteristik anak autis antara lain tidak tampak tanda-tanda perkembangan
bahasa, kadang-kadang mengeluarkan suara tanpa arti. Gangguan interaksi sosial
yaitu anak mengalami kegagalan untuk bertatap mata, ketidakmampuan untuk secara
spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan, dan ketidakmampuan anak untuk
berempati. Aktivitas, perilaku, dan ketertarikan anak terlihat sangat terbatas.
Sangat sensitif terhadap sentuhan, tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa
takut. Menyenangi benda-benda yang berputar, tidak suka bermain seperti
anak-anak pada umumnya, dan dengan anak sebayanya. Sering marah-marah tanpa
alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan, temper tantrum,
kadangkadang suka menyerang dan merusak, berperilaku yang menyakiti dirinya
sendiri, serta tidak mempunyai empati yang tidak mengerti perasaan orang
lain.  (Maulana, 2007; Veskarisyanti,
2008; Prasetyono, 2008).

Berbagai karakteristik autisme yang
telah dijabarkan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik autisme dapat
dikelompokkan berdasarkan (1) isu berbicara, meliputi  tidak mampu berbicara, tidak mampu bersuara,
membeo; (2) isu interaksi, meliputi 
kurang berinteraksi dalam kelompok, kurang kontak mata, tampak tidak
bekesadaran terhadap kehadiran orang lain; (3) isu perilaku, meliputi tidak
tertarik sentuhan/berdekatan, asyik dengan gerakan tangan; berputar-putar,
diulang-ulang; menyakiti diri sendiri, berperilaku rutin; (4) isu sensori,
meliputi tidak suka suara-suara tertentu, tekstur dan atau rasa tertentu, tidak
suka disentuh, sangat pasif, menutup telinga terhadap gangguan suara yang
keras, (5) kemampuan khusus meliputi menggambar, musik, matematika, (6) penanda
biologis meliputi bermasalah pada makanan, beberapa anak menderita gangguan
tidur.

 

4.   Pendidikan
Karakter Anak Autis melalui Dongeng

Pendidikan
karakter kini diberikan di semua jenjang pendidikan termasuk anak berkebutuhan
khusus. Hal ini dilakukan karena pemerintah melihat masyarakat Indonesia dari
segi moral saat ini sangat memprihatinkan. Anak autis termasuk anak
berkebutuhan khusus sehingga perlu mendapatkan pendidikan karakter. Pendidikan
karakter  perlu diberikan kepada anak
autis dengan harapan mampu mewujudkan anak autis yang berkarakter sesuai dengan
nilai-nilai budaya dan agama seperti halnya anak-anak normal.

Nilai agama
diberikan kepada anak autis sebagai salah satu cara agar mengenal Tuhan. Anak
autis akan mengetahui apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang Tuhan
melalui pendidikan karakter dalam penanaman nilai agama. Pendidikan karakter
berkaitan dengan nilai budaya kepada anak autis lebih
diarahkan untuk memberikan contoh pada nilai-nilai tertentu seperti kesetiakawanan,
rasa hormat, disiplin, jujur, adil, peduli, dalam kehidupan sehari. Selain
nilai agama dan budaya anak autis juga perlu pendidikan karakter berkaitan
dengan nilai moral, misalnya sikap berani,
tanggung jawab, tolong menolong, saling bahu membahu sesama teman.

Mengingat anak autis mengalami
gangguan dalam komunikasi dan interaksi sosial maka penanaman nilai pendidikan
karakter anak autis disesuaikan dengan kondisi mereka. Salah satu cara
penanaman nilai pendidikan karakter anak autis dilakukan melalui dongeng. Dongeng
merupakan media efektif untuk menanamkan nilai pendidikan karakter kepada anak
autis.Dongeng merupakan bentuk sastra lama yang bercerita
tentang suatu kejadian yang luar biasa yang penuh khayalan (fiksi) yang
dianggap oleh masyarakat suatu hal yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng merupakan bentuk
cerita tradisional atau cerita yang disampaikan secara
turun-temurun dari nenek moyang. Dongeng berfungsi untuk menyampaikan ajaran moral (mendidik), dan juga
menghibur.

Mendongeng
merupakan salah satu ketrampilan yang harus dikuasai oleh orang tua, guru dan
juga terapis. Agar anak autis tertarik kepada dongeng yang dibacakan tentunya
cara mendongeng harus menarik. Kalau mendongengnya dengan cara yang biasa,
kaku, tidak berekspresi tentunya akan membosankan dan anak tidak tertarik
dengan dongeng yang disampaikan. Kalau anak autis sudah tidak tertarik dengan
dongeng yang dibacakan pesan moral yang terkandung dalam dongeng tidak akan
sampai pada anak. Oleh karena itu agar pesan yang disampaikan dalam dongeng bisa
dipahami anak autis, dongeng harus disampaikan dengan cara yang menarik, luwes,
dan penuh ekspresi.

Semua anak senang mendengarkan
dongeng atau dibacakan cerita, termasuk anak autis. Saat mendengarkan dongeng
atau dibacakan cerita, anak autis tampak seperti tidak peduli karena pada
dasarnya mereka lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat visual. Oleh karena
itu di dalam mendongeng atau bercerita kepada anak autis diperlupan teknik
khusus agar mereka menaruh perhatian pada dongeng yang disampaikan. Melalui
dongeng dilengkapi dengan media gambar sangat tepat untuk pendidikan karakter
anak autis. Orang tua, guru, atau terapis bisa memodifikasi dongeng yang ingin
disampaikan ke dalam beberapa bentuk fisik yang menarik, misalnya gambar
berukuran besar.

Dongeng sangat bermanfaat dalam pendidikan karakter anak
autis. Melalui dongeng berbagai pesan moral dapat disampaikan kepada anak
autis. selain itu perbendaharaan kata anak akan semakin banyak karena anak
autis akan mendapatkan kosa kata baru dalam setiap dongeng yang disampaikan
kepadanya. Kedekatan dan hubungan emosional antara anak autis dengan orang tua,
guru, dan terapis terjalin lebih intim. Semua anak senang bila mendengarkan
dongeng, termasuk anak autis. Anak autis tampak seperti tidak peduli ketika dibacakan
dongeng. Hal ini karena anak autis lebih tertarik kepada hal-hal yang bersifat
visual. Oleh karena itu, agar anak autis tertarik terhadap dongeng yang
disampaikan diperlukan teknik khusus dalam mendongeng dan media yang sesuai
untuk anak autis.

Beberapa media yang cocok digunakan untuk mendongeng
bagi anak autis adalah menggunakan media gambar, menggunakan boneka, atau
menggunakan boneka jari. Mendongen menggunakan media boneka jauh lebih baik
karena bentuknya tiga dimensi dan dapat disentuh oleh anak. Mendongeng dengan
menggunakan boneka selain menyampaikan isi dongeng, sekaligus melatih sensori
sentuhan anak autis. selain boneka untuk menyampaikan dongen kepada anak bisa
dilakukan melalui media gambar. Gambar yang digunakan untuk media dongeng sebaiknya
menggunakan gambar berukuran besar dengan harapan anak autis bisa melihat
dengan jelas. Agar gambar tampak lebih menarik digunakan gambar yang berwarna
dan disampaikan penuh ekspresi. Selain menggunakan media di atas, yang perlu
dipertimbangkan dalam menyampaikan dongeng kepada anak autis adalah isi dongeng
harus disesuai dengan anak autis.

Dongeng yang diberikan kepada anak autis adalah dongeng
mengajarkan anak akan hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Misalnya cerita tentang bagaimana berperilaku yang baik di tempat umum.
Pendidikan karakter melalui dongeng dengan harapan agar anak autis bisa
berkembang dan menjadi pribadi yang utuh dan mandiri.

 

5.   Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa pendidikan karakter sangat penting untuk membentuk
kepribadian anak autis. Nilai-nilai pendidikan
karakter yang perlu diberikan kepada anak autis meliputi nilai agama, nilai-nilai
kepribadian, nilai moral, dan nilai budaya. Dongeng
merupakan salah satu media yang cocok untuk menanamkan nilai pendidikan
karakter kepada anak autis. Melalui dongeng tentang kisah-kisah keteladanan, diharapkan
anak autis memiliki landasan untuk mengubah pribadi, bangsa, dan negara kearah
yang lebih baik.

 

 

 

Daftar Rujukan

 

Baihaqi, MIF. 2006. Memahami dan Membantu Anak ADHD. Bandung: Refika Aditama.

Barnawi dan M. Arifin. 2012. Strategi dan Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Karakter.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media

Handojo. 2004. Autisma:
Petunjuk Praktis dan Pedoman Materi Untuk Mengajar Anak Normal, Autis dan
Perilaku Lain. Jakarta: Buana Ilmu Populer.

Kesuma, Dharma, dkk. 2011. Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung:
Rosdakarya

Koesoema, A. 2007. Pendidikan Karakter: Strategi
Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: PT Grasindo

Lickona, Thomas. 1992. Educating For Character: How Our School Can Teach Respect and
Responsibility. New York: Bantam Books.

Majid, A dan Andayani, D. 2011. Pendidikan
Karakter Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya.

Maulana, M. 2007. Anak Autis:
Mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental Lain Menuju Anak Cerdas dan Sehat. Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media

Peeters, T. 2004. Autisme:
Hubungan Pengetahuan Teoritis dan Intervensi Pendidikan Bagi Penyandang Autis.
Jakarta: Dian Rakyat.

Peeters, T. 2009. Panduan Autisme: Hubungan Antara Pengetahuan Teoritis dan Intervensi Pendidikan
Bagi Penyandang Autis. Jakarta: Dian Rakyat.

Prasetyono, D. S. 2008. Serba
Serbi Anak Autisn (Autisme dan Gangguan Psikologis Lainnya: mengenal,
menangani, dan Mengatasinya dengan Tepat dan Baik). Jogjakarta: DIVA Press.

Priyatna, A. 2010. Amazing
Autism: Memahami, Mengasuh, dan mendidik Anak Autis. Jakarta: Gramedia.

Puspita, D. 2004. Untaian Duka Tabuaran Mutiara (Hikmah Perjuangan Ibunda Untuk Anak
Autistik). Bandung: Qanita.

Siswanto, W; Roekhan; dan Ariani, D. (2017). The
Learning Development Model for Writing Indonesian Child Stories Based on The
Character Education to Support The Creative Industry With the Lesson Study. ISLLAC : Journal of Intensive
Studies on Language, Literature, Art, and Culture, Volume 1 Nomor 2 2017 hal. 69—74, (online)
http://journal2.um.ac.id/index.php/jisllac/article/view/1926/1127, diakses 19
Desember 2017

Veskarisyanti, G. A. 2008. 12
Terapi Autis Paling Efektif dan Hemat: Untuk Autisme, Hiperaktif, dan Retardasi
Mental. Yogyakarta: Pustaka Anggrek.

Yatim, F. 2003. Autisme:
Suatu Gangguan Jiwa pada Anak-anak. Jakarta: Pustaka Populer Obor.

Yuwono, J. 2009. Memahami
Anak Autistik: Kajian Teori dan Empirik. Bandung: Alfabeta.