KATA tulisan atau kata-kata di dalam makalah

KATA
PENGANTAR

 

Puji
serta syukur kepada Allah SWT karena atas Rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini.

            Makalah ini saya buat untuk memenuhi
nilai mata kuliah TPB. Materi makalah saya adalah mengenai “Kesetaraan Gender”
yang merupakan tujuan dari SDG’s yang ke 5. Pelajaran yang saya gunakan adalah
materi yang saya dapat dalam TPB. Saya harap dengan pengetahuan yang saya
peroleh dalam TPB yang lalu saya pakai dalam makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi orang lain.

            Makalah ini saya akui masih memiliki
kekurangan tetapi saya harap dengan makalah ini dapat bermanfaat dengan baik.
Bila ada kesalahan dalam hal tulisan atau kata-kata di dalam makalah ini saya
mohon maaf yang sebesar-besarnya.

 

 

Bandung,
Januari 2017

 

 

Penyusun

Amira Zahra

 

 

BAB
I

PENDAHULUAN

 

A.   
Latar Belakang

Manusia diciptakan menjadi dua yaitu laki-laki dan
perempuan. Walaupun diciptakan berbeda, laki-laki dan perempuan diciptakan
untuk saling membutuhkan, berdampingan dan berpasangan di dunia. Perempuan dan
laki-laki  diciptakan sama derajatnya
oleh Allah SWT. Namun beberapa hal pada kenyataan nya tidak sesuai dengan
seharusnya.

Karena hal inilah, pemerintah membuat suatu program
untuk membantu masalah negara yaitu program SDG’s. Program ini diharapkan dapat
menangani masalah-masalah negara yang sudah digolongkan menjadi 17 masalah yang
menjadi tujuan dari program SDG’s ini. Kesetaraan gender termasuk kedalam
tujuan SDG’s ke 5 yang diharapkan tidak terjadi kembali di Indonesia.

 

B.    
Rumusan Masalah

1.      Apa
tujuan dari program SDG’s yang ke 5?

2.      Apa
saja yang menjadi penyebab ketidaksetaraan gender?

3.      Bagaimana
cara mengurangi masalah ini?

 

C.    
Tujuan

Tujuan
dari makalah ini yaitu untuk memberikan informasi yang lebih dalam mengenai
masalah kesetaraan gender dan juga untuk memenuhi nilai mata kuliah TPB saya.

           

 

 

 

 

 

BAB
II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian

Banyak orang yang masih memiliki
kesalahan presepsi mengenai gender. Gender bukanlah jenis kelamin (seks).
Gender merupakan keyakinan masyarakat bagaimana seorang laki-laki dan perempuan
seharusnya berperan sesuai dengan ketentuan sosial. Kesetaraan gender berarti
menyetarakan kedudukan setiap gender laki-laki dan perempuan dimanapun,
kapanpun dan dalam keadaan apapun. Dalam hal ini menyakut suatu kelompok gender
tetapi berdampak pada salah satu individu.

Kesetaraan gender dapat juga diartikan
persamaan kekedudukan bagi laki-laki maupun perempuan untuk memperoleh
kesempatan dan hak nya sebagai manusia. Permasalahan ini terjadi bukan hanya di
Indonesia tetapi di negara lain juga. Dengan ketidakadaannya kesetaraan gender,
beberapa orang tidak bisa mendapatkan hak nya dan bekerja sesuai dengan
keterampilan nya.

Menurut saya, kesetaraan gender dapat
terjadi bermula dari pemahaman seseorang dari sebuah kebiasaan yang dijadikan
sebagai hal mutlak tetapi sebenarnya tidak. Salah satu contoh nya yaitu
pekerjaan seorang supir angkutan kota atau yang kita sering sebut angkot. Pada umumnya
tidak hanya supir angkot melainkan supir angkutan yang lain adalah seorang
laki-laki. Seiring berjalan nya waktu, masyarakat jadi berpikiran bahwa
pekerjaan seorang supir adalah pekerjaan laki-laki, namun anggapan tersebut sebenarnya
salah. Seorang perempuan pun dapat bekerja sebagai supir. Syarat utamanya
hanyalah keahlian seseorang tersebut dalam mengendarai kendaraan. Dalam hal ini
kesetaraan gender dapat diartikan dengan tidak adanya diskriminasi dalam hal
akses, berpartisipasi, kontrol atas pembangunan dan memperoleh manfaat yang
setara dan adil dari pembangunan suatu bangsa.

Kesetaraan gender gender tidak bisa kita
anggap sepele. Dengan ketiadaan sikap peduli kita terhadap dampak ketidaksetaraan
gender dapat berpengaruh pada kelangsungan hidup orang lain.

 

B.     Permasalahan

Tanpa kita sadari, banyak hal yang
dilakukan masyarakat yang termasuk kedalam perilaku yang menunjukan
ketidaksetaraan gender. Beberapa perilaku ini dapat terjadi di lingkungan
manapun. Salah satu contoh nya yaitu peminggiran terhadap kaum perempuan
terjadi secara multidimensional yang disebabkan oleh banyak hal bisa berupa
kebijakan pemerintah, tafsiran agama, keyakinan, tradisi dan kebiasaan, atau
pengetahuan (Mansour Faqih, Analisis Gender dan Transformasi
Sosial,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h.14). Salah satu bentuk paling
nyata dari marginalisasi ini adalah lemahnya peluang perempuan terhadap
sumber-sumber ekonomi. Proses tersebut mengakibatkan perempuan menjadi kelompok
miskin karena peminggiran terjadi secara sistematis dalam masyarakat.
(TipsSerbaSerbi, 2016)

Dikutip dari www.puskapol.ui.ac.id, Komisi
Pemilihan Umum (KPU) telah mengeluarkan Peraturan KPU Nomor 7 tahun 2013 untuk
mengatur proses pencalonan anggota DPR RI. Salah satu isu penting dan (kembali)
diperdebatkan adalah perihal pencalonan 30% perempuan sebagai anggota DPR dan
DPRD. Komisi 2 DPR RI meminta agar KPU merevisi ketentuan terkait pemenuhan
jumlah 30% caleg perempuan dalam Daftar Calon di setiap daerah pemilihan DPR,
DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Salah satu alasan anggota Komisi 2 DPR
RI adalah KPU tidak melihat kondisi sosiologis kultural masyarakat yang menjadi
kendala perempuan dalam berpolitik.

Dari masalah diatas, dapat kita ketahui
bahwa negara Indonesia masih lemah akan kesetaraan gender. Hal ini sangat disayangkan
untuk negara kita. Bahkan salah satu pahlawan kita yaitu R.A. Kartini pada masanya
berupaya keras untuk memperjuangkan hak-hak wanita, dimana wanita harus
disamakan kedudukan nya dengan laki-laki.