Saat online di gunakan untuk masyarakat Indonesia.

Saat ini kemacetan lalu
lintas telah menjadi masalah utama yang sering dihadapi di kota- kota besar,
khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Hasil survei Castrol Magnatec
Start-Stop tentang lalu lintas kota-kota besar di dunia, menunjukkan Jakarta
sebagai kemacetan paling buruk1.  Pemerintah pun mencoba berbagai macam solusi
untuk mengurangi kemacetan yang terjadi di Indonesia, mulai dari jalan tol,
pengadaan Bus TransJakarta, pemberlakuan jalur 3 in 1, hingga munculnya
berbagai angkutan umum yang dikelola perusahaan pemerintah maupun swasta. Namun
persoalan baru pun muncul ketika menggunakan transportasi umum, yaitu tingginya
angka kejahatan dan lamanya waktu tunggu sehingga penumpang merasa kurang
nyaman. Ditengah persoalan kemacetan, kejahatan dan efisiensi waktu, muncul lah
Go-Jek sebagai salah satu solusi bagi warga dengan mobilitas tinggi disertai dengan
bonus harga yang sangat ekonomis.

Perusahaan Go-Jek yang
berdiri pada tahun 2011 silam, pada mula nya hanya merupakan perusahaan
transportasi roda dua melalui panggilan telepon, namun seiring berjalannya
waktu, layanan yang di tawarkan pun semakin beragam. Kemunculan Gojek disusul
oleh Grab dan Uber Taksi yang notabene bukan merupakan perusahaan anak negeri.
Namun dikarenakan munculnya perbedaan kebijakan yang dianut oleh taksi konvensional
dan transportasi berbasis online, hal ini pun menyulut amarah di kalangan para
pengemudi taksi konvensional karena berkurangnya pendapatan mereka setiap hari,
hingga rasa amarah tersebut pun pecah dan akhirnya menimbulkan kerusuhan massal
pada tanggal 22 Maret 2016. Maka dari itu tujuan dari esai ini adalah
mengetahui seberapa layak transportasi online di gunakan untuk masyarakat
Indonesia. Dan apakah hal ini adil bagi transportasi konvensional yang merasa
di rugikan oleh ada nya transportasi online.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dalam persoalan ini,
transportasi konvensional tidak menyetujui ada nya transportasi online
dikarenakan oleh berbagai macam alasan. Transportasi berbasis online (terutama
Grab dan Uber) tidak memiliki kewajiban membayar pajak, tidak memiliki uji kir,
tidak berbadan hukum, tidak menyediakan bengkel serta tidak memiliki kewajiban
membayar asuransi, sehingga transportasi konvensional menganggap bahwa hal ini
layak dikatakan “illegal” dan berdampak signifikan pada ketimpangan tarif dan
turunnya pendapat sopir taksi konvensional. Akhirnya pemerintah pun turut andil
dalam memecahkan permasalahan ini. Menko Polhukam Luhut Pandjaitan mengadakan
rapat dengan Menkominfo Rudiantara, Menhub Ignasius Jonan serta perwakilan dari
Uber, Grab dan Go-Jek. Dan hasil dari rapat tersebut, pemerintah memberikan
tenggat waktu dua bulan hingga 31 Mei 2016 bagi transportasi berbasis online,
untuk mematuhi dan melengkapi ketentuan sebagai angkutan umum2.
Mereka pun siap melengkapi segala persyaratan tersebut. Syarat yang harus dipenuhi
salah satunya adalah wajib berkerja sama dengan operator atau badan usaha yang
mengantongi izin operasi angkutan, dan kendaraannya juga harus menjalani uji
kir guna menjamin kelayakan demi keselamatan penumpang. Dan mengenai masalah
tarif miring yang ditawarkan transportasi online, seharusnya transportasi
konvensional bisa berkompetisi secara seimbang dengan transportasi online.

Kita sebagai masyarakat
sudah merasakan banyak manfaat dari transportasi online, yaitu kenyamanan,
kemudahan, kecepatan, dan biaya yang lebih murah pun akhirnya lebih menarik
minat masyarakat. Transportasi berbasis online ini juga sudah menjadi tren yang
mendunia dari sebuah revolusi angkutan umum. Dalam pelaksanaan nya,
transportasi online sangat membantu masyarakat dalam kegiatan sehari-harinya.
Dengan menggunakan transportasi online ini kita tidak perlu lama menunggu,
tarif yang di tawarkan sangat jelas dan tidak perlu ada nya tawar menawar, dan
penumpang juga di tawarkan alat pelindung seperti helm, masker muka dan juga hair
net untuk melindungi rambut bagi penumpang wanita. Hal ini sangat membuat
penumpang merasakan kenyamanan yang maksimal dan beralih dari transportasi
konvensional ke transportasi online. Namun disisi lain transportasi online juga
memiliki kekurangan, yaitu terkadang driver
yang mengetahui nomor telepon kita, mengirim pesan yang tidak sepantasnya, dan
ini membuat penumpang merasa tidak nyaman akan hal tersebut.

Dan pada akhirnya,
pemberian izin transportasi online sebenarnya sangat di dukung oleh pemerintah dan
juga masyarakat. Seiring perkembangan teknologi yang semakin canggih, para
pengusaha transportasi konvensional harus mampu bersaing dan berfikir rasional
bahwasanya hal ini tidak bisa dihindari lagi karena memang keadaan yang
menuntut harus seperti ini. Namun dibalik itu semua terdapat hal yang positif
dan juga negatif, dan kita sebagai masyarakat harus bisa memilih diantara
pilihan tersebut.